<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>UKKI STIKOM Surabaya</title>
	<link>http://ukki.blogsome.com</link>
	<description>UKKI STIKOM Surabaya berazas Al-Qur'an dan As-Sunnah sesuai dengan pemahaman As-Salaf As-Shalih</description>
	<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 12:42:34 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Hadirilah Kajian Ilmiah</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/10/04/hadirilah-kajian-ilmiah/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/10/04/hadirilah-kajian-ilmiah/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 04 Oct 2009 12:42:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Jadwal Kajian Tidak Rutin</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/10/04/hadirilah-kajian-ilmiah/</guid>
		<description><![CDATA[	&quot;MANHAJ AHLUSUNNAH DALAM TAZKIYATUN NUFUS&quot;
	 Pembicara : Ustadz. YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp; Waktu : Jum&#8217;at, 9 Oktober 2009 Pukul Ba&#8217;da Maghrib s/d 20:00 WIB Tempat : Masjid Al-IKHLAS, Jl. Tanjung Sadari No. 59, Surabaya
	 Informasi : 031-70773818 / 081332080018 (Akhi Aris)

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>&quot;MANHAJ AHLUSUNNAH DALAM TAZKIYATUN NUFUS&quot;</p>
	<p> Pembicara :<br /> Ustadz. YAZID BIN ABDUL QODIR JAWAS<br /> &nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;&nbsp;<br /> Waktu : Jum&#8217;at, 9 Oktober 2009 Pukul Ba&#8217;da Maghrib s/d 20:00 WIB<br /> Tempat : Masjid Al-IKHLAS, Jl. Tanjung Sadari No. 59, Surabaya</p>
	<p> Informasi :<br /> 031-70773818 / 081332080018 (Akhi Aris)
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/10/04/hadirilah-kajian-ilmiah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Kebiasaan Tidur Pagi Hari Ternyata Berbahaya!</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/09/15/kebiasaan-tidur-pagi-hari-ternyata-berbahaya/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/09/15/kebiasaan-tidur-pagi-hari-ternyata-berbahaya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Sep 2009 13:42:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Taushiyah</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/09/15/kebiasaan-tidur-pagi-hari-ternyata-berbahaya/</guid>
		<description><![CDATA[	Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. 
 Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font color="#0000cc">Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih.</font><br /> 
<p><font color="#006633"><br /> Kita telah ketahui bersama bahwa waktu pagi adalah waktu yang penuh berkah dan di antara waktu yang kita diperintahkan untuk memanfaatkannya. Akan tetapi, pada kenyataannya kita banyak melihat orang-orang melalaikan waktu yang mulia ini. Waktu yang seharusnya dipergunakan untuk bekerja, melakukan ketaatan dan beribadah, ternyata dipergunakaan untuk tidur dan bermalas-malasan.</font><br /><a id="more-234"></a> <br /> Saudaraku, ingatlah bahwa orang-orang sholih terdahulu sangat membenci tidur pagi. Kita dapat melihat ini dari penuturan Ibnul Qayyim ketika menjelaskan masalah banyak tidur yaitu bahwa banyak tidur dapat mematikan hati dan membuat badan merasa malas serta membuang-buang waktu. Beliau rahimahullah mengatakan,</p>
	<p> &ldquo;Banyak tidur dapat mengakibatkan lalai dan malas-malasan. Banyak tidur ada yang termasuk dilarang dan ada pula yang dapat menimbulkan bahaya bagi badan.</p>
	<p> Waktu tidur yang paling bermanfaat yaitu :</p>
	<p> [1] tidur ketika sangat butuh,</p>
	<p> [2] tidur di awal malam &ndash;ini lebih manfaat daripada tidur di akhir malam-,</p>
	<p> [3] tidur di pertengahan siang &ndash;ini lebih bermanfaat daripada tidur di waktu pagi dan sore-. Apalagi di waktu pagi dan sore sangat sedikit sekali manfaatnya bahkan lebih banyak bahaya yang ditimbulkan, lebih-lebih lagi tidur di waktu &lsquo;Ashar dan awal pagi kecuali jika memang tidak tidur semalaman.</p>
	<p> Menurut para salaf, tidur yang terlarang adalah tidur ketika selesai shalat shubuh hingga matahari terbit. Karena pada waktu tersebut adalah waktu untuk menuai ghonimah (pahala yang berlimpah). Mengisi waktu tersebut adalah keutamaan yang sangat besar, menurut orang-orang sholih. Sehingga apabila mereka melakukan perjalanan semalam suntuk, mereka tidak mau tidur di waktu tersebut hingga terbit matahari. Mereka melakukan demikian karena waktu pagi adalah waktu terbukanya pintu rizki dan datangnya barokah (banyak kebaikan).&rdquo; (Madarijus Salikin, 1/459, Maktabah Syamilah)</p>
	<p> BAHAYA TIDUR PAGI [1]</p>
	<p> [Pertama] Tidak sesuai dengan petunjuk Al Qur&#8217;an dan As Sunnah.</p>
	<p> [Kedua] Bukan termasuk akhlak dan kebiasaan para salafush sholih (generasi terbaik umat ini), bahkan merupakan perbuatan yang dibenci.</p>
	<p> [Ketiga] Tidak mendapatkan barokah di dalam waktu dan amalannya.</p>
	<p> [Keempat] Menyebabkan malas dan tidak bersemangat di sisa harinya.</p>
	<p> Maksud dari hal ini dapat dilihat dari perkataan Ibnul Qayyim. Beliau rahimahullah berkata, &quot;Pagi hari bagi seseorang itu seperti waktu muda dan akhir harinya seperti waktu tuanya.&quot; (Miftah Daris Sa&#8217;adah, 2/216). Amalan seseorang di waktu muda berpengaruh terhadap amalannya di waktu tua. Jadi jika seseorang di awal pagi sudah malas-malasan dengan sering tidur, maka di sore harinya dia juga akan malas-malasan pula.</p>
	<p> [Kelima] Menghambat datangnya rizki.</p>
	<p> Ibnul Qayyim berkata, &quot;Empat hal yang menghambat datangnya rizki adalah [1] tidur di waktu pagi, [2] sedikit sholat, [3] malas-malasan dan [4] berkhianat.&quot; (Zaadul Ma&rsquo;ad, 4/378)</p>
	<p> [Keenam] Menyebabkan berbagai penyakit badan, di antaranya adalah melemahkan syahwat. (Zaadul Ma&rsquo;ad, 4/222)</p>
	<p> [1] Pembahasan berikut disarikan dari tulisan Ustadz Abu Maryam Abdullah Roy, Lc yang berjudul &lsquo;Tholabul &lsquo;Ilmi di Waktu Pagi&rsquo; dan ada sedikit tambahan dari kami.<br /> ****<br /> Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal<br /> Artikel <a target="_blank" href="http://rumaysho.com/">http://rumaysho.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/09/15/kebiasaan-tidur-pagi-hari-ternyata-berbahaya/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Perjalanan Musisi Indonesia dalam Meninggalkan Musik</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/09/03/perjalanan-musisi-indonesia-dalam-meninggalkan-musik/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/09/03/perjalanan-musisi-indonesia-dalam-meninggalkan-musik/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 03 Sep 2009 03:04:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Taushiyah</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/09/03/perjalanan-musisi-indonesia-dalam-meninggalkan-musik/</guid>
		<description><![CDATA[	Betapa tidak, sejak kecil saya merasa sudah dikaruniai sense of musical yang tinggi. Sejak SD kelas 2 saya sudah main gitar, kemudian sejak SD kelas 4 kursus gitar di YAMAHA Jakarta sampai SMP kelas 3 di Medan hingga mencapai grade 4, kala itu saya sangat mahir memainkan reportoir &ldquo;Recuerdos dela Alhambra&rdquo;, &ldquo;Sonata in C&rdquo;, &ldquo;Asturias&rdquo; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Betapa tidak, sejak kecil saya merasa sudah dikaruniai sense of musical yang tinggi. Sejak SD kelas 2 saya sudah main gitar, kemudian sejak SD kelas 4 kursus gitar di YAMAHA Jakarta sampai SMP kelas 3 di Medan hingga mencapai grade 4, kala itu saya sangat mahir memainkan reportoir &ldquo;Recuerdos dela Alhambra&rdquo;, &ldquo;Sonata in C&rdquo;, &ldquo;Asturias&rdquo; dan &ldquo;Capricio Arabe&rdquo;. <a id="more-233"></a>Ketika masih SD pula,saya sudah mencoba bermain electone organ, kemudian ketika SMP saya mencoba memainkan alat musik 5-string Banjo. Ketika SMA di Bandung, saya begitu aktif main Band dengan warna musik Jazz, posisi saya pada Keyboard/synthesizer. Saya memiliki telinga musikal yang sangat tajam (Perfect Relative Pitch). Di waktu yang bersamaan, saya juga bermain Banjo dengan intensif, ini terus berlanjut sampai saya mahasiswa di Arsitektur Trisakti. Saya juga sempat menjadi pelatih Band di SMA Tarakanita Puloraya Jakarta Selatan dan SMA Al Azhar Pusat Jakarta Selatan. Saya juga pernah menjadi pelatih Vocal Group SMA Al Azhar Jakarta Selatan, SMA 4 dan SMA 7 Jakarta Pusat.Kepiawaian saya memainkan 5 string Banjo membuat saya banyak punya koneksi dengan para pemain Banjo di Amerika dan asosiasi musik bluegrass di Amerika, dan beberapa diantara mereka secara informal menggelari saya sebagai Master Banjo Of Indonesia. Sayapun memiliki banyak murid Banjo. Murid saya tersebar di Jakarta, Bandung dan surabaya. Disaat yang sama pula, saya banyak mengerjakan karya2 musik (program sequencing) untuk acara2 televisi dan radio, seperti jingle iklan, ilustrasi musik sinetron, minus one for stage performance dll.</p>
	<p>Akhirnya, Alhamdulillah, Allah azza wa jall berkehendak untuk memberi saya hidayah. Bertemulah saya dengan teman2 ahlus sunnah waljama&rsquo;ah. Kami sering diskusi yang akhirnya saya dipinjami beberapa kitab bermanhaj salaf. Betapa terkejutnya saya ketika membaca tafsir Ibnu Katsir mengenai tafsir surat <strong>Luqman ayat 6</strong>, dimana dalam tafsir itu diriwayatkan bahwa sahabat Nabi shallallaahu &lsquo;alaihi wa salam yang bernama Ibnu Mas&rsquo;ud radhiallaahu &lsquo;anhu, berkata : &rdquo;Yang dimaksud dengan itu (perkataan yang tidak berguna) adalah nyanyian, demi Allah yang tiada sesembahan kecuali DIA (3 kali)&rdquo;. Saya juga membaca sebuah hadits Shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dimana Rasulullah shallallaahu &lsquo;alaihi wa salam bersabda :&rdquo;Benar-benar akan ada sebagian umatku yang mereka menghalalkan zina, sutra (bagi lelaki), khomr (minuman keras) dan alat-alat musik&hellip;..&rdquo;, juga beberapa hadits lainnya yang senada dengan itu. Kemudian terdapat banyak pendapat dari para ulama yang membenarkan tentang keharaman nyanyian dan musik, mulai dari jaman sahabat Nabi shallallaahu &lsquo;alaihi wa salam seperti Ibnu Mas&rsquo;ud radhiallaahu &lsquo;anhu, Ibnu Umar radhiallaahu &lsquo;anhu, Ibnu Abbas radhiallaahu &lsquo;anhu, lalu juga ulama2 di bawah jaman sahabat seperti Sa&rsquo;id bin Musayyib, Al Qasim bin Muhammad, Umar bin Abdul Aziz, Fudahil bin &lsquo;Iyadh, Adh Dhahhak, Yazid bin Al Walid, Asy Sya&rsquo;bi, kemudian juga imam mazhab yang 4 seperti Imam Abu Hanifah (<strong>Hanafi</strong>), Imam Malik bin Anas (<strong>Maliki</strong>), Imam Asy Syafi&rsquo;i (<strong>Syafi&rsquo;i</strong>) dan Imam Ahmad bin Hanbal (<strong>Hambali</strong>), lalu ada juga ulama2 ahlus sunnah dijaman pertengahan seperti Abuth Thoyyib At Thobari, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim dan Ahmad bin Yahya An Najmi.</p>
	<p>Saya juga mencoba mempelajari fatwa2 ulama terkemuka masa kini seperti, Syaikh Albani, Syaikh Shalih Fauzan Al Fauzan, Syaikh Utsaimin, Syaikh Bin Baaz dll.</p>
	<p>Saya juga mengikuti beberapa kajian ilmiah islam dan kajian hadits, yang akhirnya saya dapat menyimpulkan dan meyakini bahwa musik dan nyanyian dalam Islam ternyata memang dilarang/diharamkan. Setelah melakukan pendalaman dan perenungan selama berbulan-bulan, maka akhirnya sayapun memutuskan untuk berhenti main musik, dan sedapat mungkin saya berusaha keras untuk tidak menyentuh alat-alat musik yang sudah terlanjur banyak saya miliki. Maka sayapun bertaubat kepada Allah azza wa jall atas kebodohan saya terhadap syari&rsquo;at Islam selama ini.</p>
	<p>Yang sulit bagi saya adalah menghilangkan sense of musikal yang sudah sangat baik yang sudah terlanjur mengendap dalam jiwa, pikiran dan telinga saya. Coba bayangkan, dimanapun saya mendengar musik tanpa sengaja, otomatis telinga dan otak saya tanpa disadari bekerja mendeteksi secara instan solfegio/solmisasi dan harmony/chord dari nyanyian/lagu tersebut secara tepat dan akurat sampai2 ke chord extensinya segala, dan itu berlangsung sampai saat ini. Astaghfirullah.</p>
	<p>Jadi saudara2ku sesama muslim, jika anda masih meyakini bahwa dalam islam, musik /nyanyian itu dibolehkan/dihalalkan, maka mari kita tanyakan, islam yang anda anut itu Islam pemahaman-nya siapa? Islam sekuler-kah? Islam liberal-kah? Islam lingkungan-kah? Islam tradisi-kah? Atau Islam sesuai dengan pemahaman nenek moyang? Mari dalam memahami Islam ini, kita harus berpegang teguh pada Al Qur-an dan Hadits Shahih/minimal Hasan berdasarkan pemahaman salafus shalih (orang2 shalih dijaman Sahabat Nabi shallallaahu &lsquo;alaihi wa salam, Tabi&rsquo;in dan Tabi&rsquo;ut tabi&rsquo;in) dan juga pemahaman para ulama2 ahlus sunnah dijaman setelahnya yang sejalan dengan mereka.</p>
	<p>Memang saya akui, sudah sejak lama sampai sekarang masih ada pemikiran dan pemahaman Islam yang membolehkan secara mutlak nyanyian dan musik, dan pemikiran ini di validasi oleh ulama2 mereka di Mesir. Akan tetapi Ahlus sunnah wal jama&rsquo;ah berlepas diri dari pemikiran dan pemahaman seperti itu. Wallaahu musta&rsquo;an.</p>
	<p><a href="http://novybanjo.blog.friendster.com/2007/05/musik-itu-haram-saya-mantan-musisi/" target="_blank">[sumber]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/09/03/perjalanan-musisi-indonesia-dalam-meninggalkan-musik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>AHLUS SUNNAH DAN TERORISME</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/08/25/ahlus-sunnah-dan-terorisme/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/08/25/ahlus-sunnah-dan-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 06:38:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Taushiyah</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/08/25/ahlus-sunnah-dan-terorisme/</guid>
		<description><![CDATA[	Oleh  Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr 
   Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah. Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam dan para sahabatnya[1]. Namun demikian, tidak boleh seorang Salafi (siapapun orangnya) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="center">Oleh<br />  Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu Nashr </div>
 <br />  Orang yang menuduh kita sebagai teroris, ia termasuk ahlul ghuluw (berlebih-lebihan dalam tuduhannya). Ia tidak mengerti dakwah salafiyah. Dakwah salafiyah adalah dakwah Islam. Dakwah salafiyah adalah dakwah Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam dan para sahabatnya[1]. Namun demikian, tidak boleh seorang Salafi (siapapun orangnya) menganggap dirinya berakhlak seperti akhlak Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam, atau akhlak para shahabatnya.</p>
	<p><a id="more-232"></a>  Dakwah salafiyah berdiri di atas aqidah yang benar, aqidah yang Rasulullah dan para sahabatnya berkeyakinan dengannya. Dakwah salafiyah tegak diatas manhaj (jalan, metode, tata cara) Islam yang benar dan lurus, berdiri diatas dalil. Dakwah ini benar-benar mengagungkan As-Salaf Ash-Shalih (generasi terdahulu yang shalih), dari kalangan para sahabat dan tabi&rsquo;in. Dakwah ini mengagungkan dan menghormati dalil, (berupa) firman Allah dan (sabda) Rasulnya, tidak mengutamakan dan mengedepankan perkataan siapapun (di atas perkataan Allah dan rasulNya), betapapun tinggi derajat dan kedudukannya orang itu. Dakwah salafiyah menyeru kepada Allah, kepada ajaran Islam yang benar, seimbang dan adil. Menyeru kepada kelemah lembutan dan menolak kekerasan. Maka menuduh dakwah salafiyah sebagai terorisme adalalah dusta!</p>
	<p>  Karena, siapakah yang benar-benar menentang para teroris dan takfiriyin (orang-orang yang sangat mudah mengkafirkan orang lain tanpa sebab yang haq) saat ini?</p>
	<p>  Siapakah mereka kalau bukan ulama dakwah salafiyah ? Mereka, yang pada zaman ini dikenal sangat gigih membela dan berdakwah dengan dakwah salafiyah ini. Yang paling dikenal di antara mereka, seperti Al-Imam Al-Muhaddist Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, kemudian Asy-Syaikh Al&rsquo;Allaamah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz, Asy-Syaikh Al-Allaamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Kemudian murid-murid Al-Imam Al-Muhaddist Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, dan murid-murid mereka semua.</p>
	<p>  Merakalah yang jelas-jelas nyata paling menentang dan membantah pemikiran terorisme ini, baik dengan tulisan-tulisan di dalam kitab-kitab mereka, kaset-kaset kajian ilmiah mereka, dan dari seputar kajian-kajian ilmiah mereka secara langsung. Hal ini diketahui oleh setiap munshif (orang yang adil dalam menghukum).</p>
	<p>  Adapun mukabir (orang yang sombong dan keras kepala) dan orang yang mendustakan kenyataan mereka semua, maka sesungguhnya dia merupakan generasi (pelanjut) dari tokoh-tokoh (penentang) terdahulu, (yaitu orang-orang) yang menuduh Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam sebagai tukang sihir, orang gila, pemalsu dan pembuat Al-Qur&rsquo;an, pendusta. Mereka hanya menuduh, menuduh dan terus menuduh (tanpa haq dan bukti yang benar).</p>
	<p>  Namun inilah taqdir para nabi, mereka selalu didustakan oleh sebagian umatnya. Allah berfirman.</p>
	<p>  &ldquo;Artinya : Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami terhadap mereka&rdquo; [Al-An&rsquo;am : 34]</p>
	<p>  Oleh karena itu, demikianlah keadaan para da&rsquo;i yang berdakwah kepada Allah, keadaan para penuntut ilmu agama. Mereka akan selalu mendapatkan halangan dan rintangan serta hambatan dari orang-orang sesat, ahli bid&rsquo;ah, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah. Mereka akan disakiti oleh para penentang itu.</p>
	<p>  Para ahli bid&rsquo;ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah, (mereka) tidak pernah berhenti melancarkan usaha-usaha keji ( yang mereka buat), berupa provokasi, menaburkan bibit-bibit pertikaian dan permusuhan di kalangan masyarakat, sehingga para da&rsquo;i yang ikhlas berdakwah kepada Allah dan para penuntut ilmu agama, (mereka) akan selalu mendapatkan rintangan ini.</p>
	<p>  Ada dua pondok pesantren yang bermanhaj salaf di sebuah pulau. Setelah para ahli bid&rsquo;ah, orang-orang sesat, dan orang-orang yang menyimpang dari jalan Allah ini mengetahui keberadaan dua pondok pesantren ini, mereka segera menghasut masyarakat setempat, dan akhirnya merekapun berhasil menghancurkan dan memporakporandakan ke dua pondok pesantren ini.</p>
	<p>  Tidak ada yang memicu mereka untuk melakukan tindakan keji ini, melainkan hasad, dengki dan kebencian yang membakar dada-dada mereka terhadap para da&rsquo;i dari penuntut ilmu agama yang benar dan lurus. Demikianlah, karena orang sesat memang tidak akan pernah mencintai kebenaran dan ahlinya!.</p>
	<p>  Betatpapun demikian, orang-orang yang berpegang teguh dengan manhaj salaf, pasti akan tetap selalu ada. Mereka selalu konsisten di atas prinsipnya dalam berdakwah. Tidak berpengaruh tindakan-tindakan orang yang berusaha berbuat madharat terhadap mereka, juga orang-orang yang menyelisihi mereka, seperti yang telah disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam.</p>
	<p>  &ldquo;Artinya : Akan tetap ada sekelompok dari umatku yang muncul di atas al-haq (kebenaran), tidak membahayakan mereka orang-orang yang meninggalkan (tidak mempedulikan mereka) sampai datang urusan dari Allah, sedangkan mereka tetap demikian&rdquo; [2]</p>
	<p>  Dan golongan ini, para ulama telah menafsirkan, bahwa mereka adalah ahlul hadits dan ahlul atsar (yaitu orang-orang yang konsisten mengikuti hadits-hadits dan jejak para As-Salaf Ash-Shalih).</p>
	<p>  Maka, saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi. Saya nasihati setiap muslim, hendaknya ia menjadi seorang salafi [3]. Hendaknya setiap muslim bermanhaj, seperti apa yang telah ditempuh oleh Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Sebuah manhaj yang tidak berpihak kepada personal tertentu, atau kepada jama&rsquo;ah-jama&rsquo;ah tertentu.</p>
	<p>  As-Salafiyah bukanlah bayi perempuan yang baru terlahir sekarang. Bukan pula sebuah organisasi yang baru didirikan saat ini. As-Salafiyah adalah ajaran yang turun dari Allah, berupa wahyu yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam. Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda kepada putrinya Fathimah Radhiyallahu anha [4] tatkala ia meninggal dunia.</p>
	<p>  &ldquo;Artinya : Bergabunglah bersama pendahulu kita yang shalih, Utsman bin Mazh&rsquo;un&rdquo; [5]</p>
	<p>  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata (yang maknanya) : &ldquo;Bukan (merupakan) aib, jika seseorang menisbatkan (menyandarkan) dirinya kepada salaf, karena manhaj salaf adalah (manhaj yang) a&rsquo;lam (lebih berilmu), ahkam (lebih bijak dan berhukum), dan aslam (lebih selamat)&rdquo;.</p>
	<p>  Karena jika tidak demikian, bagaimana kita bisa merealisasikan : &lsquo;Maa ana &lsquo;alaihi wa ashhaabii&rsquo;.</p>
	<p>  Lihatlah ! Sekarang banyak jama&rsquo;ah dengan bermacam-macam pola mereka, ada yang ke barat, ada yang ke timur. Semuanya mengikuti jalannya masing-masing yang berbeda-beda. Kecuali, hanya dakwah salafiyah yang diberkahi Allah ini. Golongan inilah yang tetap konsisten berpegang teguh kuat-kuat dengan apa yang Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam dan para sahabatnya berada di atasnya.</p>
	<p>  Oleh karena itu, saya memohon kepada Allah agar mereka &ndash;baik para da&rsquo;i, para penuntut ilmu, dan orang-orang yang bermanhaj salaf ini- senantiasa diberikan kemudahan dan keutamaan dariNya, dan agar mereka dijadikan olehNya generasi-generasi terbaik pewaris mereka. Sesungguhnya Allah-lah yang berkenan mangabulkan do&rsquo;a ini dan Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidaklah ada seorang yang menentang dakwah yang haq ini, melainkan Allah pasti akan mebinasakannya. Karena Allah akan selalu membela orang-orang yang beriman (yang membela agamaNya).</p>
	<p>  Karenanya, seluruh model dakwah apapun (di muka bumi ini) yang berusaha menghalang-halangi, menentang, dan merintangi dakwah salafiyah, usaha mereka pasti sia-sia dan gagal. Bahkan yang mereka dapatkan hanyalah kerugian dan penyesalan. Sedangkan Allah senantiasa membela dan menolong dakwah salafiyah ini, karena Allah pasti akan menolong orang-orang yang membela agamaNya, sebagaimana firmanNya.</p>
	<p>  &ldquo;Artinya : Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa&rdquo; [Al-Hajj : 40]</p>
	<p>  Demikianlah, akhirnya saya cukupkan jawaban saya sampai di sini. Saya berharap bisa bertemu dengan kalian pada kesempatan yang lain, insya Allah.</p>
	<p>  [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun X/1427H/1426. Diambil dari Muhadharah Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr di Masjid Al-Karim, Pabelan, Surakarta, Ahad 19 Februari 2006, Diterjemahkan oleh Abu Abdillah Arief Budiman bin Utsman Rozali]<br />  _________<br />  Footnotes<br />  [1]. Berdasarkan hadits Iftiraqul ummah (perpecahan umat) yang shahih dan masyhur, yang dikeluarkan oleh Abu Daud 4/197-198 no. 4597, At-Tirmidzi 5/25-26 no. 2640 dan 2641. Ahmad 2/332, 3/120 dan 145, 4/102, Ibnu Majah 2/1231-1232 no. 3991-3993 dari hadits Abu Hurairah dan Auf bin Malik Radhiyallahu &lsquo;anhu, dan lain-lain yang sdi salah satu lafazh akhir hadits-haditsnya adalah. &ldquo;Mereka adalah al-jama&rsquo;ah&rdquo; dan &lsquo;(Yaitu) mereka seperti apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya&rdquo;. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Muhamamd Nashiruddin Al-Albani Rahimahullah di dalam Ash-Shahihah 3/480 dan kitab-kitab beliau lainnya.<br />  [2]. Hadits Riwayat Muslim 3/1523 no. 1920 dari hadits Tsauban Radhiyallahu &lsquo;anha, dan yang semakna dengannya diriwayatkan oleh Al-Bukhari 2/2667 no. 6881 dari hadits Al-Mughirah bin Syu&rsquo;bah Radhiyallahu &lsquo;anhu dan lain-lain.<br />  [3]. Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr memang mengulangi kata-katanya ini dua kali.<br />  [4]. Demikian yang Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nashr sampaikan. Mungkin yang beliau maksud adalah Ruqayah binti Rasulillah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam, karena Fatimah Radhiyallahu &lsquo;anha meninggal sekitar setengah tahun setelah Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam wafat, sebagaimana yang telah diketahui dan telah banyak keterangannya di dalam kitab-kitab tarajim (biografi) para sahabat. Lihat Taqrib at Tahdzib, hal. 1367 no. 8749.<br />  [5]. Hadits Riwayat Ath-Thabrani di dalam Al-Mu&rsquo;jam Al-Ausath 6/41 no. 5736 dan lain-lain. Hadits ini pernah diucapkan Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam ketika putri beliau Zainab meninggal, sebagaimana dalam Musnad Al-Imam Ahmad 1/237 dan 335 no. 2127 dan 3103 dan lain-lain. Juga ketika putra beliau Ibrahim meninggal sebagaimana dalam Al-Mu&rsquo;jam Al-Kabir 1/286 no. 837 dan lain-lain. Al-Imam Adz-Dzhahabi di dalam Siyar A&rsquo;lam An-Nubala 2/252, beliau membawakan biografi Ruqayah Radhiyalahu &lsquo;anha, beliau menghukumi hadsits ini dan berkata &lsquo;Munkar&rsquo;.</p>
	<p>  Syaikh Salim bin Id Al-Hilali &ndash;hafizhahullah- di dalam kitabnya (Bashra-iru dzawi asy-Syaraf bi Marwiyati Manhaj As-Salaf) hal.18 berkata : &lsquo;Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa salam sabdanya kepada putri beliau Ruqayah, tatkala ia meninggal &#8230;&rsquo; lalu beliaupun (Syaikh Salim bin Id Al-Hilali) membawakan hadits ini. Kemudian beliau komentari pada catatan kaki : &lsquo;Dhaif, dikeluarkan oleh Al-Imam Ahmad 1/237 dan 335 dan Ibnu Sa&rsquo;ad di dalam Ath-Thabaqat 8/37 dan hadits ini dipermasalahkan oleh syaikh kami &ndash;rahimahullah- di dalam Adh-Dha&rsquo;ifah no. 1715, karena terdapat (di sanadnya) Ali bin Zaid bin Jud&rsquo;an&rdquo;.</p>
	<p>  Dan Ali bin Zaid bin Jud&rsquo;an adalah perawi yang dhai&rsquo;f. Lihat Taqrib at Tahdzib, hal.696 no. 4768.</p>
	<p>  Atau, mungkin yang dimaksud oleh beliau (Syaikh Dr Muhammad bin Musa Alu An-Nasr) adalah justru perkataan Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam kepada putri beliau Fathimah Radhiyallahu &lsquo;anha, ketika beliau (Rasulullah) menjelang wafat. Jika ini yang dimaksud, maka haditsnya adalah muttafaq &lsquo;alaih, dikeluarkan oleh Al-Bukhari 5/2317 no. 5928 dan Muslim 4/1904 no. 2450 dari Aisyah Radhiyallahu &lsquo;anha, Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda.</p>
	<p>  &ldquo;Artinya : Sesungguhnya aku adalah sebaik-baik pendahulu bagimu&rdquo;.<br />  Dan lafazh hadits ini lafazh Shahih Muslim.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/08/25/ahlus-sunnah-dan-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>WAS-WAS SETAN DALAM JIWA MANUSIA TENTANG DZAT ALLAH</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/07/31/was-was-setan-dalam-jiwa-manusia-tentang-dzat-allah/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/07/31/was-was-setan-dalam-jiwa-manusia-tentang-dzat-allah/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 07:41:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Taushiyah</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/07/31/was-was-setan-dalam-jiwa-manusia-tentang-dzat-allah/</guid>
		<description><![CDATA[	Oleh 
	 Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin 
	  Pertanyaan  Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Kadangkala setan datang kepada manusia dan membisikkan keragu-raguan dalam jiwanya tentang Dzat Allah dan tentang ayat-ayat kauniyah-Nya, lalu apakah yang semestinya dilakukan manusia ketika itu?
	  Jawaban  Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="center"><font color="#006600">Oleh</font> </div>
	<div align="center"> <font color="#cc00cc">Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin</font> </div>
	<p>  <font color="#000099"></font><font color="#660000">Pertanyaan</font><br />  Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al-Jibrin ditanya : Kadangkala setan datang kepada manusia dan membisikkan keragu-raguan dalam jiwanya tentang Dzat Allah dan tentang ayat-ayat kauniyah-Nya, lalu apakah yang semestinya dilakukan manusia ketika itu?</p>
	<p><a id="more-231"></a>  Jawaban<br />  Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam pernah ditanya tentang hal ini. Dalam Shahih Muslim dari hadits Abu Hurairah, ia mengatakan, &ldquo;Beberapa orang dari shahabat Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam datang, lalu mengatakan kepada beliau, &lsquo;Kami mendapati dalam diri kami sesuatu, yang salah seorang dari kami menganggap besar (merasa takut) bila membicarakannya&rsquo;. Beliau bertanya, &lsquo;Kalian mendapatinya?&rsquo;. Mereka menjawab, &lsquo;Ya&rsquo;. Beliau bersabda.</p>
	<p>  &ldquo;Itulah keimanan yang nyata&rdquo; [HR Muslim, no. 132, Kitab Al-Iman]</p>
	<p>  Dalam Muslim juga dari Abdullah bin Mas&rsquo;ud, ia mengatakan, &lsquo;Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam ditanya tentang was-was, maka beliau menjawab.</p>
	<p>  &ldquo;Itulah keimanan yang sejati&rdquo; [HR Muslim, no. 133, Kitab Al-Iman]</p>
	<p>  Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &lsquo;anhu, Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda.</p>
	<p>  &ldquo;Manusia terus bertanya-tanya sehingga dikatakan, &lsquo;Ini Allah menciptakan ciptaan, lalu siapakah yang menciptakan Allah?&rsquo; Siapa yang mendapati sesuatu dari hal itu, maka katakanlah, &lsquo;Aku beriman kepada Allah&rdquo; [HR Muslim, no. 134, Kitab Al-Iman]</p>
	<p>  Dari Abu Hurairah Radhiyallahu &lsquo;anhu, Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda.</p>
	<p>  &ldquo;Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, &lsquo;Siapakah yang menciptakan demikian, siapakah yang menciptakan demikian?&rsquo; hingga bertanya, &lsquo;Siapakah yang menciptakan Tuhan-mu?&rsquo;. Jika hal ini sampai kepadamu, maka mintalah perlindungan kepada Allah dan berhentilah&rdquo;[1]</p>
	<p>  Dan riwayatnya juga, Rasulullah Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda.</p>
	<p>  &ldquo;Setan mendatangi salah seorang dari kalian, lalu bertanya, &lsquo;Siapakah yang menciptakan bumi?&rsquo; Ia mejawab Allah. Lalu setan bertanya, &lsquo;Siapakah yang mencitakan Allah&rsquo; Jika salah seorang dari kalian merasakan sesuatu dari hal ini, maka katakanlah, &lsquo;Aku beriman kepada Allah dan para rasul-Nya&rdquo; [2]</p>
	<p>  Dalam Sunan Abu Daud dari Ibnu Abbas Radhiyallahu &lsquo;anhu, ia mengatakan, &ldquo;Seseorang datang kepada Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam lalu mengatakan.</p>
	<p>  &ldquo;Wahai Rasulullah, salah seorang dari kami mendapati dalam dirinya &ndash;ia mengisyaratakan sesuatu- yang bila dirinya disiram dengan air panas lebih disukainya daripada mengatakannya&rsquo;. Mendengar hal itu beliau bersabda. &lsquo;Segala puji bagi Allah yang mengembalikan tipu daya setan menjadi was-was&rdquo; [3]</p>
	<p>  Dalam hadits-hadits ini dan selainnya terdapat penjelasan, bahwa pemikiran-pemikiran yang adakalanya datang dengan tiba-tiba kepada manusia mengenai perkara-perkara ghaib ini adalah bisikan dari setan untuk menimpakan keraguan dan kebimbangan kepadanya &ndash;kita berlindung kepada Allah darinya-</p>
	<p>  Kemudian kita, jika manusia mengalami seperti ini, maka ia harus melakukan beberapa hal, sebagaimana ditunjukkan Nabi Shallallahu &lsquo;alaihi wa sallam.</p>
	<p>  [1]. Meminta  perlindungan kepada Allah<br />  [2]. Berhenti dari hal itu. Berhenti, maksudnya ialah memangkas was-was ini.<br />  [3]. Mengucapkan, &ldquo;Aku beriman kepada Allah&rdquo; Dalam suatu riwayat, &ldquo;Aku beriman kepda Allah dan para rasul-Nya.</p>
	<p>  Jika terlintas kepadamu suatu was-was tentang Dzat Allah, tentang kekelan alam, tentang kekelannya, tentang perkara-perkara kebangkitan dan kemustahilan hal itu, tentang penjelasan pahala dan siksa, serta sejenisnya, maka kamu harus beriman dengan keimanan secara global. Lalu kata-kata yang kamu ucapkan ialah, &ldquo;Aku beriman kepada Allah dan kepada segala yang datang dari Allah, serta menurut kehendak Allah&hellip;.. Aku beriman kepada Rasulullah dan segala yang berasal dari Rasulullah, serta menurut kehendak Rasulullah. Apa yang aku ketahui akan aku ucapkan, dan apa yang tidak aku ketahui aku diamkan serta aku serahkan ilmunya kepada Allah.</p>
	<p>  Tidak diragukan lagi, was-was ini tetap menyertai hamba, maka menyebabkan kebimbangan, kemudian pada akhirnya ia kosong dari perkara-perkara ibadah. Adapun jika ia memangkasnya sejak kali pertama, maka akan terputus, insya Allah, disertai dengan banyak beriti&rsquo;adzah (meminta perlindungan kepada Allah) dari setan dan banyak mengusir setan. Karena ini merupakan tipu dayanya untuk memasukkan was-was pada manusia hingga meragukannya dalam keimanan dan agamanya</p>
	<p>  [Al-Kanz Ats-Tsamin, Syaikh Abdullah Al-Jibrin, jilid 1, hal.199-201]</p>
	<p>  [Disalin dari buku Al-Fatawa Asy-Syar&rsquo;iyyah Fi Al-Masa&rsquo;il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, Penyusun Khalid Al-Juraisiy, Penerjemah Amir Hamzah dkk, Penerbit Darul Haq]<br />  ___________<br />  Foote Note.<br />  [1]. HR Al-Bukhari, no. 3276, Kitab Bad&rsquo;u Al-Wahyi, Muslim, no. 134 [214], Kitab Al-Iman.<br />  [2]. HR Muslim, no. 134, Kitab Al-Iman, Ahmad no. 8176<br />  [3]. HR Abu Daud, no. 5112, Kitab Al-Adab			 			 			</p>
	<p><a href="http://www.almanhaj.or.id/content/2370/slash/0" target="_blank" title="almanhaj">[sumber] </a> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/07/31/was-was-setan-dalam-jiwa-manusia-tentang-dzat-allah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Rangkaian Dauroh Ittiba’usSunnah</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/06/18/p230/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/06/18/p230/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Jun 2009 01:17:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Jadwal Kajian Tidak Rutin</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/06/18/p230/</guid>
		<description><![CDATA[	Ahad, 5 Juli 2009 pukul 8.30 -  11.30
	 
	Materi : Taubat, Kewajiban Seumur Hidup
	 
	Pemateri : Ust. Dr. Nurul Mukhlisin (alumni Jami&rsquo;ah Islamiyah Madinah)
	
	
	Ahad, 2 Agustus 2009 pukul 8.30 - 11.30 
	 
	Materi : Dahsyatnya Ayat Kursi
	 
	Pemateri : Ust. Dr. Ali Musri (alumni Jami&rsquo;ah Islamiyah Madinah, Rektor STDI Imam Syafi&rsquo;i)
	
	Ahad, 9 Agustus 2009 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font><strong>Ahad, 5 Juli 2009 pukul 8.30 -  11.30</strong></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Materi : <span>Taubat, Kewajiban Seumur Hidup</span></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Pemateri : <span>Ust. </span><span>Dr.</span> Nurul Mukhlisin<br /> (alumni Jami&rsquo;ah Islamiyah Madinah)</font></p>
	<p></p>
	<p></p>
	<p><font><strong>Ahad, 2 Agustus 2009 pukul 8.30 - 11.30 </strong></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Materi : <span>Dahsyatnya Ayat Kursi</span></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Pemateri :<span> </span><span>Ust. </span><span>Dr.</span> Ali Musri<br /> (alumni Jami&rsquo;ah Islamiyah Madinah, Rektor STDI Imam Syafi&rsquo;i)</font></p>
	<p></p>
	<p><font><strong>Ahad, 9 Agustus 2009 pukul 9.00 - 11.30</strong></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Materi : <span>Hikmah Dalam Berdakwah</span></font></p>
	<div> </div>
	<p><font>Pemateri : <span>U</span><span>st. Abdullah Zaen, Lc.</span><br /> (mahasiswa <span>S2</span> Jami&rsquo;ah Islamiyah Madinah)</font></p>
	<p></p>
	<p></p>
	<div> </div>
	<p><font>TEMPAT : Masjid Shalahuddin<br /> Puri Surya Jaya, Gedangan, Sidoarjo</font></p>
	<p></p>
	<p><font>Informasi : 03177976168</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/06/18/p230/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ghazwul Fikr (Perang Pemikiran)</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/06/03/ghazwul-fikr-perang-pemikiran/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/06/03/ghazwul-fikr-perang-pemikiran/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Jun 2009 14:56:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Jadwal Kajian Rutin</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/06/03/ghazwul-fikr-perang-pemikiran/</guid>
		<description><![CDATA[	
Pembicara : Ustadz MUBAROK BAMUALLIM, Lc
	Sabtu, 06 Juni 2009Waktu : 09:00 - 11:30 WIBTempat : Ruang Serba Guna Kampus STIKOM SurabayaJl. Kedung Baruk 98 Surabaya
	Info: Akh Adam - 085645463608 
  
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div class="storycontent">
<p><font color="#33cc00">Pembicara : Ustadz MUBAROK BAMUALLIM, Lc</font></p>
	<p><font color="#0000cc">Sabtu, 06 Juni 2009<br />Waktu : 09:00 - 11:30 WIB</font><br />Tempat : Ruang Serba Guna Kampus STIKOM Surabaya<br />Jl. Kedung Baruk 98 Surabaya</p>
	<p><font color="#cc3399">Info: Akh Adam - 085645463608 </font></p>
  </div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/06/03/ghazwul-fikr-perang-pemikiran/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Mutiara Ust. Ahmaz Faiz</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/05/25/mutiara-ust-ahmaz-faiz/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/05/25/mutiara-ust-ahmaz-faiz/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 25 May 2009 03:29:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Jadwal Kajian Tidak Rutin</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/05/25/mutiara-ust-ahmaz-faiz/</guid>
		<description><![CDATA[	Hari Sabtu, 30 Mei 2009Jam 15.30 - 17.00 WIBMasjid Nida&#8217;ul FithrahJl. Rangkah Kidul (depan perum Citra Padova) SidoarjoMateri:
	&quot;Salafiyyin Bukanlah Muqollid&quot;

Hari Sabtu 30 Mei 2009Jam 18.00 - 20.30 WIBMasjid MuhajirinPerum Puri Indah-SidoarjoMateri:
	&quot;AHLUSSUNNAH BERSATULAH&quot;

Ahad, 31 Mei 2009Jam 08.30 - 11.30 WIBKampus STIKOMPJl. Kedung Baruk 98 - SurabayaMateri: &quot;Aqidah Atau Khilafah&quot;PEMATERI:Al-Ustadz Ahmaz Faiz, Lc.(Mudir Mahad Imam Bukhori &amp; [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<div align="center"><font color="#cc00cc">Hari Sabtu, 30 Mei 2009<br /></font><font color="#cc00cc">Jam 15.30 - 17.00 WIB<br /></font><font color="#cc00cc">Masjid Nida&#8217;ul Fithrah<br /></font><font color="#cc00cc">Jl. Rangkah Kidul (depan perum Citra Padova) Sidoarjo<br /></font><font color="#cc00cc">Materi:<br /></font></div>
	<div align="center"><font color="#cc00cc">&quot;Salafiyyin Bukanlah Muqollid&quot;</font></div>
<br />
<div align="center"><font color="#339933">Hari Sabtu 30 Mei 2009<br /></font><font color="#339933">Jam 18.00 - 20.30 WIB<br /></font><font color="#339933">Masjid Muhajirin<br /></font><font color="#339933">Perum Puri Indah-Sidoarjo<br /></font><font color="#339933">Materi:<br /></font></div>
	<div align="center"><font color="#339933">&quot;AHLUSSUNNAH BERSATULAH&quot;</font></div>
<font><br /></font><br />
<div align="center"><font /><font color="#3300ff">Ahad, 31 Mei 2009<br /></font><font color="#3300ff">Jam 08.30 - 11.30 WIB<br /></font><font color="#3300ff">Kampus STIKOMP<br /></font><font color="#3300ff">Jl. Kedung Baruk 98 - Surabaya<br /></font><font color="#3300ff">Materi: &quot;Aqidah Atau Khilafah&quot;</font><br /><font><br /></font><font color="#663333">PEMATERI:<br /></font><font color="#663333">Al-Ustadz Ahmaz Faiz, Lc.<br /></font><font color="#663333"></font><font color="#663333">(Mudir Mahad Imam Bukhori &amp; Pimp. Umum Majalah As-Sunnah - Solo)</font><br /><font color="#ff0000"><br /></font><font color="#ff0000">Info: Akh Adam - 085645463608</font></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/05/25/mutiara-ust-ahmaz-faiz/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi Orang Asing di Dunia</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/05/03/menjadi-orang-asing-di-dunia/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/05/03/menjadi-orang-asing-di-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 09:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Serba-serbi UKKI STIKOM</category>
	<category>Hadits</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/05/03/menjadi-orang-asing-di-dunia/</guid>
		<description><![CDATA[	&nbsp;
	Penulis : Syaikh Shalih bin &lsquo;Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh 
	Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba&rsquo;in No. 40 Oleh : Abu Fatah Amrulloh 
	Murojaah : Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar      
	Dari Ibnu Umar radhiallohu &lsquo;anhuma beliau berkata: &ldquo;Rosululloh shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, &ldquo;Jadilah engkau di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p align="center">&nbsp;<a href="http://ukki.blogsome.com/wp-admin/images/tree-of-life-colourpreview.jpg"><img width="180" height="177" border="0" src="http://ukki.blogsome.com/wp-admin/images/thumb-tree-of-life-colourpreview.jpg" alt="asing" title="asing" /></a></p>
	<p align="center"><font color="#0033cc">Penulis : Syaikh Shalih bin &lsquo;Abdul Aziz Alu Syaikh hafizhohulloh </font></p>
	<p align="center"><font color="#0033cc">Diterjemahkan dari Penjelasan Hadits Arba&rsquo;in No. 40 Oleh : Abu Fatah Amrulloh </font></p>
	<p align="center"><font color="#0033cc">Murojaah : Ustadz Abu Ukasyah Aris Munandar      </font></p>
	<p align="justify"><font color="#006600">Dari Ibnu Umar radhiallohu &lsquo;anhuma beliau berkata: &ldquo;Rosululloh shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, <em>&ldquo;Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir&rdquo;. </em></font></p>
	<p align="justify"><font color="#006600">Ibnu Umar berkata: <em>&ldquo;Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati&rdquo;</em> (HR. Bukhori)  </font></p>
<a id="more-227"></a><br />
<p align="justify"><font color="#0000ff">Penjelasan Hadits ini adalah hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar berisi nasihat nabi shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam kepada beliau. Hadits ini dapat menghidupkan hati karena di dalamnya terdapat peringatan untuk menjauhkan diri dari tipuan dunia, masa muda, masa sehat, umur dan sebagainya.   </font></p>
  <!--more--><br />
<p align="justify"><font color="#006600">Ibnu Umar berkata: <em>&ldquo;Rosululloh shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku&rdquo;, </em>hal ini menunjukkan perhatian yang besar pada beliau, dan saat itu umur beliau masih 12 tahun. Ibnu Umar berkata:<em> &ldquo;beliau pernah memegang kedua pundakku&rdquo;.</em> Rosululloh shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam bersabda, <em>&ldquo;Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau penyeberang jalan&rdquo;. </em></font></p>
	<p align="justify"><font color="#0000cc">Jika manusia mau memahami hadits ini maka di dalamnya terkandung wasiat penting yang sesuai dengan realita. Sesungguhnya manusia (Adam &ndash;pent) memulai kehidupannya di surga kemudian diturunkan ke bumi ini sebagai cobaan, maka manusia adalah seperti orang asing atau musafir dalam kehidupannya. Kedatangan manusia di dunia (sebagai manusia) adalah seperti datangnya orang asing. Padahal sebenarnya tempat tinggal Adam dan orang yang mengikutinya dalam masalah keimanan, ketakwaan, tauhid dan keikhlasan pada Alloh adalah surga. </font></p>
	<p align="justify"><font color="#0000cc">Sesungguhnya Adam diusir dari surga adalah sebagai cobaan dan balasan atas perbuatan maksiat yang dilakukannya. Jika engkau mau merenungkan hal ini, maka engkau akan berkesimpulan bahwa seorang muslim yang hakiki akan senantiasa mengingatkan nafsunya dan mendidiknya dengan prinsip bahwa sesungguhnya tempat tinggalnya adalah di surga, bukan di dunia ini. Dia berada pada tempat yang penuh cobaan di dunia ini, dia hanya seorang asing atau musafir sebagaimana yang disabdakan oleh Al Musthofa shalallahu &lsquo;alaihi wa sallam.   </font></p>
	<p align="justify"><font color="#0000cc">Betapa indah perkataan Ibnu Qoyyim rohimahulloh ketika menyebutkan bahwa kerinduan, kecintaan dan harapan seorang muslim kepada surga adalah karena surga merupakan tempat tinggalnya semula. Seorang muslim sekarang adalah tawanan musuh-musuhnya dan diusir dari negeri asalnya karena iblis telah menawan bapak kita, Adam &lsquo;alaihissalam dan dia melihat, apakah dia akan dikembalikan ke tempat asalnya atau tidak. </font></p>
	<p>Oleh karena itu, alangkah bagusnya perkataan seorang penyair : </p>
	<p>  <font color="#cc33ff"><em>Palingkan hatimu pada apa saja yang kau cintai  </em></font></p>
	<p><font color="#cc33ff"><em>Tidaklah kecintaan itu kecuali pada cinta pertamamu Yaitu Alloh jalla wa &lsquo;ala </em></font>  </p>
	<p align="justify">   <font color="#0000cc">Berapa banyak tempat tinggal di bumi yang ditempati seseorang. Dan selamanya kerinduannya hanya pada tempat tinggalnya yang semula, yaitu surga  Demikianlah, hal ini menjadikan hati senantiasa bertaubat dan tawadhu kepada Alloh jalla wa &lsquo;ala. Yaitu orang yang hati mereka senantiasa bergantung pada Alloh, baik dalam kecintaan, harapan, rasa cemas, dan ketaatan. Hati mereka pun selalu terkait dengan negeri yang penuh dengan kemuliaan yaitu surga. Mereka mengetahui surga tersebut seakan-akan berada di depan mata mereka. Mereka berada di dunia seperti orang asing atau musafir. Orang yang berada pada kondisi seakan-akan mereka adalah orang asing atau musafir tidak akan merasa senang dengan kondisinya sekarang. Karena orang asing tidak akan merasa senang kecuali setelah berada di tengah-tengah keluarganya.   Sedangkan musafir akan senantiasa mempercepat perjalanan agar urusannya segera selesai.   Demikianlah hakikat dunia. Nabi Adam telah menjalani masa hidupnya. Kemudian disusul oleh Nabi Nuh yang hidup selama 1000 tahun dan berdakwah pada kaumnya selama 950 tahun, </font></p>
	<p>     فَلَبِثَ فِيهِمْ أَلْفَ سَنَةٍ إِلَّا خَمْسِينَ عَاماً      </p>
	<p><font color="#cc66cc"><em>&ldquo;Maka ia tinggal di antara mereka seribu tahun kurang lima puluh tahun&rdquo;</em> (QS Al Ankabut: 14) </font></p>
	<p align="justify"> <font color="#0000cc">Kemudian zaman beliau selesai dan telah berlalu. Kemudian ada lagi sebuah kaum yang hidup selama beberapa ratus tahun kemudian zaman mereka berlalu. Kemudian setelah mereka, ada lagi kaum yang hidup selama 100 tahun, 80 tahun, 40 tahun 50 tahun dan seterusnya. </font></p>
	<p align="justify"><font color="#0000cc">  Hakikat mereka adalah seperti orang asing atau musafir. Mereka datang ke dunia kemudian mereka pergi meninggalkannya. Kematian akan menimpa setiap orang. Oleh karena itu setiap orang wajib untuk memberikan perhatian pada dirinya. </font></p>
	<p align="justify"><font color="#0000cc">Musibah terbesar yang menimpa seseorang adalah kelalaian tentang hakikat ini, kelalaian tentang hakikat dunia yang sebenarnya. Jika Alloh memberi nikmat padamu sehingga engkau bisa memahami hakikat dunia ini, bahwa dunia adalah negeri yang asing, negeri yang penuh ujian, negeri tempat berusaha, negeri yang sementara dan tidak kekal, niscaya hatimu akan menjadi sehat. Adapun jika engkau lalai tentang hakikat ini maka kematian dapat menimpa hatimu. Semoga Alloh menyadarkan kita semua dari segala bentuk kelalaian.  </font></p>
	<p>Kemudian Ibnu Umar rodhiallohu &lsquo;anhuma melanjutkan dengan berwasiat, </p>
	<p>     إذا أمسيت فلا تنتظر الصباح، وإذا أصبحت فلا تنتظر المساء      </p>
	<p><font color="#006600"><em>&ldquo;Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada pagi hari jangan menunggu datangnya sore.&rdquo;  </em></font></p>
	<p><font color="#0000cc">Yaitu hendaklah Anda senantiasa waspada dengan kematian yang datang secara tiba-tiba. Hendaklah Anda senantiasa siap dengan datangnya kematian. Disebutkan dari para ulama salaf dan ulama hadits bahwa jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya.  Jika seseorang diberi tahu bahwa kematian akan datang kepadanya malam ini, maka belum tentu dia dapat menambah amal kebaikannya. Hal ini dapat terjadi dengan senantiasa mengingat hak Alloh. Jika dia beribadah, maka dia telah menunaikan hak Alloh dan ikhlas dalam beribadah hanya untuk Robbnya. Jika dia memberi nafkah pada keluarganya, maka dia melakukannya dengan ikhlas dan sesuai dengan syariat. </font></p>
	<p><font color="#0000cc">Jika dia berjual beli, maka dia akan melakukan dengan ikhlas dan senantiasa berharap untuk mendapatkan rezeki yang halal. Demikianlah, setiap kegiatan yang dia lakukan, senantiasa dilandasi oleh ilmu. Ini adalah keutamaan orang yang memiliki ilmu, jika mereka bertindak dan berbuat sesuatu maka dia akan senantiasa melandasinya dengan hukum syariat. Jika mereka berbuat dosa dan kesalahan, maka dengan segera mereka akan memohon ampunan. Maka dia akan seperti orang yang tidak berdosa setelah beristigfar. Ini adalah kedudukan mereka. </font></p>
	<p>Oleh karena itu Ibnu Umar rodhiallohu &lsquo;anhuma mengatakan: </p>
	<p>     وخذ من صحتك لمرضك، ومن حياتك لموتك. رواه البخاري      </p>
	<p><font color="#006600">&ldquo;Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati&rdquo; (HR. Bukhori)</font></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/05/03/menjadi-orang-asing-di-dunia/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Biografi Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin</title>
		<link>http://ukki.blogsome.com/2009/05/01/biografi-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin/</link>
		<comments>http://ukki.blogsome.com/2009/05/01/biografi-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 May 2009 14:05:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Buletin</category>
		<guid>http://ukki.blogsome.com/2009/05/01/biografi-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin/</guid>
		<description><![CDATA[	Nasabnya
	Beliau adalah Abu  Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi.
	Kelahirannya
	Beliau dilahirkan di  kota &lsquo;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.
	Pertumbuhannya
	Beliau belajar al-Qur&rsquo;an  pada kakeknya dari jalur ibunya, Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh rahimahullah, kemudianmenghafalnya. Setelah itu beliau mulai belajar  khat (menulis), ilmu hitung, dan sebagian cabang ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p><font color="#0033cc"><strong>Nasabnya</strong></font></p>
	<p><font color="#0033cc">Beliau adalah Abu  Abdillah, Muhammad bin Sholih Al Utsamin, Al Wuhaibi, At Tamimi.</font></p>
	<p><font color="#009900"><strong>Kelahirannya</strong></font></p>
	<p><font color="#009900">Beliau dilahirkan di  kota &lsquo;Unaizah pada tanggal 27 Ramadhan tahun 1347 H.</font></p>
	<p><font color="#ff0099"><strong>Pertumbuhannya</strong></font></p>
	<p><font color="#ff0099">Beliau belajar al-Qur&rsquo;an  pada kakeknya dari jalur ibunya, Abdurrahman bin Sulaiman Alu Damigh <em>rahimahullah, </em>kemudianmenghafalnya. Setelah itu beliau mulai belajar  khat (menulis), ilmu hitung, dan sebagian cabang ilmu sastra.</font></p>
  <a id="more-226"></a>
<p>&nbsp;</p>
	<p>Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa&rsquo;di mengangkat dua orang muridnya untuk mengajar penuntut ilmu yunior yaitu syaikh Ali As Shalihi dan syaikh Muhammad bin Abdul &lsquo;Aziz Al Muthawi&rsquo; <em>rahimahullah.</em> Kepadanya syaikh Utsaimin belajar kitab <em>Mukhtashar al Aqidah Al Wasithiyah</em> karya Syaikh Abdurrahman As Sa&rsquo;di, kitab Minhaj as Salikin fil Fiqh karya syaikh Abdurrahman As Sa&rsquo;di, Kitab Al Ajrumiyah dan al Alfiyah. Beliau belajar faraid (ilmu waris) dan fiqih kepada Syaikh Abdurrahman bin &lsquo;Ali bin &lsquo;Audan.</p>
	<p>Beliau belajar kepada Syaikh Abdurrahman bin Naashir As Sa&rsquo;di yang beliau anggap sebagai syaikh pertamanya. Beliau bermulazamah kepadanya, belajar ilmu Tauhid, Tafsir, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqih, Faraid, Musthalah al Hadits, Nahwu dan Sharaf.</p>
	<p>Beliau memiliki kedudukan yang khusus di sisi Syaikh As Sa&rsquo;di, sehingga ketika orang tua beliau pindah ke Riyad, orang tuanya menginginkan agar beliau ikut pindah padahal saat itu adalah awal perkembangannya, maka Syaikh Abdurrahman As Sa&rsquo;di <em>rahimahullah</em>, menulis surat kepada orang tuanya yang di antara isinya, &ldquo;Hal ini tidak mungkin, kami ingin agar Muhammad tinggal di sini supaya tetap belajar.&rdquo;</p>
	<p>Syaikh Muhammad bin Shalih al Utsaimin mengatakan, &ldquo;Sungguh, saya banyak terpengaruh dengan beliau dalam metode pengajaran, pemaparan ilmu, serta pendekatannya terhadap penuntut ilmu dengan memberikan contoh-contoh dan makna-makna. Demikian juga saya terkesan terhadap beliau dari sisi akhlaknya, beliau memiliki akhlak yang mulia, beliau memiliki kedudukan yang tinggi di dalam hal ilmu dan ibadah, beliau mencandai anak-anak kecil serta tertawa kepada yang besar. Beliau termasuk di antara orang yang paling baik akhlaknya yang pernah saya lihat.&rdquo;</p>
	<p>Syaikh Utsaimin juga belajar kepada Syaikh Abdul &lsquo;Aziz bin Baz yang beliau anggap sebagai syaikhnya yang kedua. Beliau memulainya dengan belajar Shahih Bukhari, sebagian risalah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan beberapa kitab fikih. Beliau mengatakan, &ldquo;Aku terkesan dengan Syaikh &lsquo;Abdul &lsquo;Aziz bin Baz <em>Hafizhahullah</em> tentang  perhatiannya terhadap hadits, akhlaknya serta kelapangan jiwanya terhadap orang  lain.&rdquo;</p>
	<p>Pada tahun 1371 H beliau mengajar di masjid Jami&rsquo;. Ketika Ma&rsquo;had &lsquo;Ilmiyah didirikan di Riyadh beliau memasukinya pada tahun 1372, beliau mengatakan, &ldquo;Saya memasuki ma&rsquo;had &lsquo;Ilmi pada tahun kedua, saya memasukinya atas saran dari syaikh &lsquo;Ali as Shalihi setelah saya meminta izin kepada Syaikh &lsquo;Abdurrahman As Sa&rsquo;di, semoga Allah merahmatinya. Pada waktu itu ma&rsquo;had &lsquo;ilmi terbagi menjadi dua bagian yaitu khusus dan umum, sedangkan saya masuk pada bagian khusus. Pada waktu itu juga siapa saja yang menginginkan maka bisa &lsquo;melompat&rsquo;, demikian mereka menyebutnya, maksudnya seseorang belajar pelajaran kelas tingkat di atasnya pada waktu liburan kemudian mengikuti ujian pada awal tahun kedua, jika ia lulus ia boleh pindah ke kelas di atasnya sehingga dengan demikian masa studi bisa lebih singkat.</p>
	<p>Setelah dua tahun beliau lulus dan ditetapkan sebagai pengajar di Ma&rsquo;had &lsquo;Unaizah al &lsquo;Ilmi sambil melanjutkan kuliah jarak jauh pada fakultas syari&rsquo;ah serta melanjutkan menuntut ilmu pada Syaikh &lsquo;Abdurrahman As Sa&rsquo;di. Ketika Syaikh &lsquo;Abdurrahman as Sa&rsquo;di <em>rahimahullah</em> meninggal dunia beliau diangkat menjadi imam Masjid Jami&rsquo; al Kabir di &lsquo;Unaizah dan mengajar di Perpustakaan Nasional di samping mengajar di Ma&rsquo;had &lsquo;al &lsquo;Ilmi. Kemudian beliau pindah untuk mengajar di fakultas syari&rsquo;ah dan ushuluddin Universitas Imam Muhammad bin Su&rsquo;ud al islamiyah cabang Qosim. Selain sebagai anggota Haiah Kibarul &lsquo;Ulama di kerajaan Arab Saudi, beliau memiliki semangat dan aktivitas yang besar dalam berdakwah kepada Allah <em>&lsquo;azza wa jalla</em> dan  membimbing para da&rsquo;i di berbagai tempat. Beliau juga memiliki perjuangan  yang  berharga pada medan dakwah.</p>
	<p>Sehingga sangat layak  untuk disebutkan juga bahwa syaikh Muhammad bin Ibrahim <em>rahimahullah </em>pernah menawari bahkan mendesak beliau untuk menjadi qodhi(hakim) bahkan telah mengeluarkan Keputusan dengan menetapkan beliau <em>hafizhahullah</em> sebagai kepala Mahkamah Syari&rsquo;ah di Ihsa&rsquo; namun beliau meminta untuk dibebaskan tugaskan dari tugas tersebut. Setelah adanya pertimbangan-pertimbangan dan pendekatan personal dari Syaikh maka beliau diizinkan untuk dibebaskan dari jabatan sebagai hakim.</p>
	<p><strong>Karya-Karyanya</strong></p>
	<p>Beliau memiliki tulisan  yang banyak mencapai 40 berupa kitab dan risalah yang akan dikumpulkan -<em>insya  Allah</em>- dalam <em>Majmu al Fatawa wa ar Rasail</em>.</p>
	<p>Sumber: <em>Syarhu Kasyfu Asy Syubuhat</em>, Penerbit Daarul Kutubil &lsquo;Ilmiyah</p>
	<p>***</p>
	<p>Penerjemah: Sigit  Hariyanto, S.T.<br />  Muraja&rsquo;ah: Ust. Abu Mushlih  Ari Wahyudi<br /><a href="http://www.muslim.or.id" target="_blank">[Sumber]</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ukki.blogsome.com/2009/05/01/biografi-syaikh-muhammad-bin-sholih-al-utsaimin/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
