Masjid An-Nur STIKOM Surabaya

6 July 2007

Menapaki Jejak Dakwah Para Nabi

Ust Nurul Muchlisin, Lc

Manusia adalah makhluk Allah subhanahu wata’ala yang paling mulia disebabkan karena akal dan fithrah (Islam) yang diberikan Allah subhanahu wata’ala kepadanya. Dengannya ia bisa membedakan yang baik dan buruk, yang bermanfaat dan yang mudharat. Disamping itu Allah subhanahu wata’ala juga mengutus Rasul-Nya yang menjelaskan kepadanya kebaikan dan keburukan untuk kesalamatannya di dunia dan akhirat (HR.Muslim dari Abdullah bin Amru bin Ash).

Semua Nabi dan  Rasul sejak Rasul yang pertama Nuh sampai Khatamunnabiyyin (Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam) memiliki materi dan manhaj yang sama dalam berdakwah kepada umatnya. Ini terjadi karena yang mengutus mereka adalah Dzat yang satu yaitu Allah subhanahu wata’ala yang Menciptakan, Memiliki dan Mengatur alam semesta ini termasuk manusia. Maka materi pertama yang mereka ajarkan kepada umatnya adalah bagaimana mereka mengenal Tuhan-Nya (Ma’rifatullah).

Ajakan untuk beribadah kepada Allah subhanahu wata’ala dengan maknanya yang universal merupakan hal yang pokok dan melandasi seluruh dakwah para Nabi dan Rasul. Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”Dan Kami tidak mengutus seorang rasul sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak ada Ilah(yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku". (QS. 21:25)

Juga firman Allah subhanahu wata’ala, ”Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah subhanahu wata’ala (saja), dan jauhilah Thagut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah subhanahu wata’ala dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (QS. 16:36).

Kenapa mereka memulai dakwahnya dengan Tauhid dan inti dakwahnya adalah itu?

Sebagai sebuah disiplin ilmu, Tauhid membahas tentang perbuatan Allah subhanahu wata’ala (Rububiyah), hak-Nya untuk diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatu apapun (Uluhiyah) dan membahas Nama dan sifat Allah subhanahu wata’ala (Asma wa Shifat) yang indah dan agung yang tidak ada sesuatupun yang menyamai-Nya, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala azza wajalla, ”Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. 42:11).

Karena obyek kajiannya yang mulia dan tinggi tersebut, maka ilmu Tauhid disepakati sebagai Asyraful Ulum (ilmu yang paling mulia), yang karena itulah diturunkannya kitab-kitab Allah subhanahu wata’ala  yang isinya sebagian besar tentang Tauhid dan fenomenanya, termasuk di dalam al-Qur’an. Dengan demikian Tauhid merupakan perintah Allah subhanahu wata’ala yang pertama dan terakhir kali, jalan yang harus ditempuh seorang hamba, ia merupakan hak Allah subhanahu wata’ala  dan kewajiban setiap hamba, dengannya amalan seseorang bisa diterima dan ditolak. Konsekwensinya dengan bidang mu’amalah,  seorang yang bertauhid akan terjaga darah, harta dan kehormatannya, sebaliknya bagi mereka yang menentang Tauhid dijadikan hujjah untuk bolehnya diperangi, sebagaimana sabda Nabi, ”Saya diperintahkan untuk memerangi manusia sampai mereka bersaksi bahwa tidak ada Ilah (sesembahan) yang hak kecuali Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah (HR. Bukhari Muslim).

Sehingga karena menegakkan Tauhid tersebut sebab disyari’atkannya jihad. Tauhid adalah hikmah diciptakannya semua. Orang yang bertauhid akan mendapatkan syafa’at Rasulullah, diampuni dosa-dosanya dan masuk surga tanpa hisab bagi mereka yang betul-betul merealisasikannya. Ia menjadi sarana jalan ke sorga. juga keselamatan dari neraka. Tauhid adalah millah (agama) Nabi Ibrahim yang lurus yang harus diikuti dan merupakan realisasi doa Nabi Ibrahim.

Karena materi dan methode dakwah mereka adalah satu dan sama maka sikap dan jawaban umatnya juga sama. Diantara mereka ada yang beriman, menentang dan melawan. Maka balasan Allah subhanahu wata’ala terhadap sikap mereka itu juga sama sesuai dengan tindakannya. Bagi mereka yang menerima (beriman), Allah subhanahu wata’ala berikan keselamatan dan ketentraman hidup di dunia dan akhirat, sebagaimana firman-Nya, ”Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS. 16:97).

Sebaliknya bagi mereka yang menentang apalagi melawan maka mereka diberikan azab di dunia berupa angin topan, banjir, ditenggelamkan, gempa yang mengguncangkan dan membolak balikkan bumi dan lainnya. Dan di akhirat pasti akan mendapatkan azab yang pedih, Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya. dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mu’min, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia kedalam Jahannam, dan itu seburuk-buruknya tempat kembali. (QS. 4:115).

Diantara contoh dakwah para Nabi dan manhajnya yang dijelaskan oleh Allah subhanahu wata’ala dalam kitab-Nya adalah sebagai berikut:

1)- Nabi Nuh Alaihissalam.
Beliau mendakwahkan kaumnya selama 950 tahun, siang dan malam sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, ”Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): "Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih". (QS. 71:1) Nuh berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepadamu, (QS. 71:2) (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertaqwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, (QS. 71:3) niscaya Allah ta’ala akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui".(QS. 71:4) Nuh berkata: "Ya Rabbku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, (QS. 71:5) maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran).(QS. 71:6) Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mangampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat.(QS. 71:7) Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan, (QS. 71:8) Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam, (QS. 71:9) maka aku katakan kepada mereka: "Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun" (QS. 71:1-10)

2)- Nabi Ibrahim Alaihissalam.
Beliau berdakwah dengan mau’izah hasanah terutama kepada orang tuanya, Allah subhanahu wata’ala berfirman,” Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Alkitab (al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang nabi. (QS. 19:41) Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya: "Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun. (QS. 19:42) Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang keadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang keadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. (QS. 19:43) Wahai bapakku, janganlah kamu meyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Yang Maha Pemurah. (QS. 19:44) Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab oleh Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan". (QS. 19:45).

3)- Nabi Musa Alaihissalam.
Beliau berdakwah kepada Fir’aun dengan lemah lembut, Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah malampaui batas; (QS. 20:43) maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut". (QS. 20:44). Ketika Berkata:"Maka siapakah Rabbmu berdua, hai Musa?" (QS. 20:49) Musa berkata:"Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk". (QS. 20:50).

4)- Nabi Isa Alaihissalam
Allah subhanahu wata’ala berfirman, ”Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan Allah kepadaku (mengatakannya) yaitu: "Sembahlah Allah, Rabbku dan Rabbmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Meyaksikan atas segala sesuatu. (QS. 5:117)

5)- Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.
Rasulullah  berdakwah di Makkah selama tiga belas tahun mengajarkan Tauhid kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala, ”Sesungguhnya Kami menurunkan kepadamu Kitab (al-Qur’an) dengan (membawa) kebenaran.Maka sembahlah Allah dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya.Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (QS. 39:2-3).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menulis surat kepada para raja mengajak kepada ibadah hanya kepada Allah subhanahu wata’ala, sebagaimana yang dilakukan oleh Amru bin Ash dan Abdullah bin Rubi’ah kepada Najasyi, Kaisar Persia, raja Romawi (HR. Muslim dari Anas bin Malik). Begitu juga yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat yang diutus untuk berdakwah supaya memulai dengan mengajarkan Tauhid sebagaimana yang diperintahkan kepada Mu’az bin Jabal ketika beliau diutus ke Yaman (HR. Bukhari dan Muslim).

Tantangan yang dihadapi oleh para Nabi dan Rasul dalam mendakwahkan Tauhid sangat berat. Dari ancaman fisik dilempar ke api seperti Nabi Ibrahim, dikejar-kejar seperti Nabi Musa, dituduh gila, tukang sihir dan penyair bahkan pengusiran dari kampung halaman seperti Rasulullah dan lainnya. Dan inilah yang dialami juga oleh para pengikut dakwah ini, seperti Bilal yang disiksa oleh Umayyah bin Khalaf, Sumayyah yang dibunuh oleh Abu Jahl dan sahabat-sahabat yang lain.

Karena karakter dari dakwah ini tidak selamanya diterima oleh mayoritas maka kwantitas bukanlah fokus dan tujuan dari dakwah ini. Mayoritas bukanlah sebuah ukuran akan kebenaran dakwah, bahkan terkadang mayoritas sering menggelabui dan menjerumuskan. Allah subhanahu wata’ala  berfirman,” Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang dimuka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan-Nya dan Dia lebih mengetahui tentang orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 6:116). Juga firman Allah subhanahu wata’ala ,” Katakanlah: "Tidak sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya yang buruk itu menarik hatimu, maka bertaqwalah kepada Allah hai orang-orang berakal, agar kamu mendapat keberuntungan". (QS. 5:100).   

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah diperlihatkan oleh Allah seorang  Nabi yang hanya bersama seorang pengikutnya, ada yang bersama dua orang dan ada yang tidak bersama seorangpun (HR. Bukhari Muslim dari Ibnu Abbas).

Akhirnya semoga Allah subhanahu wata’ala memberikan kepada kita hidayah-Nya untuk bisa mengikuti jejak para Nabi dan Rasul dalam segala hal termasuk dalam berdakwah dan memberikan keistiqamahan dalam mengamalkan ajarannya. Amin!

Comments »

URI menuju TrackBack entri ini adalah: http://ukki.blogsome.com/2007/07/06/menapaki-jejak-dakwah-para-nabi/trackback/

Belum ada komentar.

RSS feed untuk komentar pada postingan ini.

Tulis Komentar

Garis dan paragraf terbentuk secara otomatis, alamat e-mail tidak akan diumumkan, HTML yang diizinkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>



Anti-spam: mohon menulis ulang teks di atas ke dalam kotak yang tersedia.