Tentang Mengusap Muka
Tidak ada satupun hadist yang shahih tentang mengusap muka dengan kedua telapak tangan setelah berdoa’. Semua hadist2-nya sangat lemah & tidak bisa dijadikan sebagai hujjah (dalil), jadi tidak boleh dijadikan alasan tentang bolehnya mengusap muka.
Karena tidak ada contohnya dari Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wasallam, maka mengamalkannya adalah bid’ah.[1]
Begitu juga tidak ada riwayat yang shahih dari Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam dan tidak juga para shahabatnya tentang mengusap muka setelah qunut nazilah.[2]
Syaikul Islam Ibnu Taimiyyah rahimallaahu berkata: "Adapun tentang Nabi shalallaahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya di waktu berdo’a, maka sesungguhnya telah diriwayatkan hadist2 yang shahih lagi banyak (jumlahnya). Sedangkan tentang mengusap muka, tidak ada satupun hadist yang shahih. Ada satu atau dua hadist, tapi tidak dapat dijadikan hujjah."[3]
Imam Al-’Izz bin ‘Abdissalam berkata: "Tidaklah (yang melakukan) mengusap muka melainkan orang yang bodoh."[4]
Imam an-Nawai rahimahullahu berkata: "Tidak ada sunnahnya mengusap muka"[5]
[1] Lihat Irwaa’ul Ghaliil fii takhriiji Ahaadiist Manaaris Sabiil II/178-182 hadist no. 433-434, Shahih al-Adzkaar wa Dh’iifuhu hal 960-962.
[2] Qunut Nazilah: Qunut ketika ada musibah besar dan ini dilakukan bersama kaum muslimin. Adapun tentang qunut Shubuh, hadistnya dha’if (lemah), jika dikerjakan maka menjadi bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat. Lihat Silsilah al-Haadiist adh-Dha’iifah no.1238 dan yang mengatakan qunut Shubuh bid’ah adalah para shahabat radhiyallaahu anhum, lihat Sunan an-Nasa’i II/204, Shahih Sunan an-Nasa’i I/233 no.1035 At-Tirmidzi, Ahmad dll
[3] Majmuu’ Fataawa Ibnu Taimiyyah XXII/519
[4] Lihat Irwaa’ul Ghaliil II/182, Shahih al-Adzkaar wa Dh’iifuhu hal 960-962
[5] Ibid
disalin dari Kumpulan doa dari Al-Quran dan As-Sunnah yang Shahih, oleh Yazid bin Abdul Qadir Jawas, Penerbit : Pustaka Imam Syafi’i
- Taushiyah | Waktu: 9:34 am (UTC+8)

jangan mengeluarkan fatwa, kalau seandainya kita sendiri belum memahami tentang bid’ah, apakah anda sudah yakin kalau ibadah anda sudah benar dan sesuai dengan sunnah rasul, sedangkan anda samasekali tidak hidup dijaman beliau SAW, mendingan kita tidak mengeluarkan pernyataan kalau kita cuma hanya bisa memcopy dan paste dari situs-situs yang katanya golongan yang paling benar, cuih
Comment by wahabbi — 18 October 2006 @ 9:48 am
Bid’ah sudah dijelaskan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan para ulama. Yaitu segala sesuatu yang baru di dalam agama yang tidak pernah dicontohkan dan diajarkan oleh rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam.
Ibadah kita memang tidak benar-benar sesuai dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam, namun berusaha untuk bisa sesuai dengan rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dengan belajar ayat-ayat Al Qur’an, tafsirnya, dan juga belajar hadits-hadits dari rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam.
Kita memang tidak hidup pada zaman rasululloh shallallahu’alaihi wa sallam dan itu juga komentar untuk anda yang tidak hidup pada zaman rasul kenapa harus mengomentari orang lain dan tidak mengambil pelajaran. Kalau anda mengatakan bahwa ada situs-situs yang paling benar dan mungkin ada orang yang berkata bahwa dia paling benar silakan berikan bukti yang benar-benar di sana tertulis “SAYA PALING BENAR”. Kalau tidak bukankah anda pembohong?
Kalau anda benci kepada situs-situs itu maka bencilah situs-situsnya tapi jangan anda benci kepada dalil yang diberikan karena dalil itu benar. Kalau anda sudah membenci dalil apakah anda mau melawan dan dikatakan tidak ta’at kepada Allah dan rasul-Nya?
Coba renungilah saudaraku, kebencian buta anda menutupi pandangan anda terhadap belajar yang benar sesuai dengan Al Qur’an dan As Sunnah.
Comment by admin — 19 October 2006 @ 5:57 am