Masjid An-Nur STIKOM Surabaya

8 July 2006

Ukthi-ukhtiku Sayang, Ukhti-ukhtiku Malang

Wahai ukhti-ukhtiku yang saat ini dirundung resah, ingatlah kembali akan apa yang menjagamu dikala engkau resah. Wahai, ukhti-ukhtiku yang sekarang ini sedang terjebak di dalam kubah nafsu, lihatlah bahwa sesungguhnya engkau tetap dijaga oleh-Nya dan diawasi oleh-Nya maka hati-hatilah dalam melangkah. Tubuh itu ibarat sebuah mobil yang dan hati ibarat kemudi. Apabila salah engkau mengemudi wahai ukhti-ukhtiku, maka tubuh ini akan binasa dan bisa dijadikan bahan bakar api. Tidak peduli engkau dari mana, dari golongan mana. Dan menyesal dikemudian hari tidak akan berguna.

(more…)

Hadits ke-17 Arba’in Nawawi

Dari Abu Ya’la, Syaddad bin Aus radhiyallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam beliau telah bersabda : “ Sesungguhnya Allah mewajibkan berlaku baik pada segala hal, maka jika kamu membunuh hendaklah membunuh dengan cara yang baik dan jika kamu menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik dan hendaklah menajamkan pisau dan menyenangkan hewan yang disembelihnya”.

[Muslim no. 1955]

Kalimat “hendaklah membunuh dengan cara yang baik” berlaku umum mencakup menyembelih, membunuh dalam Qishash, ataupun hukuman pidana lainnya. Hadits ini termasuk salah satu Hadits yang mengandung berbagai macam prinsip atau kaidah. Membunuh dengan cara yang baik itu ialah membunuh tanpa sedikit pun unsur penganiayaan atau penyiksaan. Menyembelih dengan cara yang baik yaitu menyembelih hewan dengan lemah lembut, tidak merebahkannya ketanah dengan keras dan juga tidak menyeretnya, menghadapkannya ke kiblat, membaca basmalah dan hamdalah, memotong urat nadi lehernya dan membiarkannya sampai mati baru dikuliti, mengakui nikmat dan mensyukuri pemberian Allah, karena Allah telah menundukkannya kepada kita, padahal Dia berkuasa untuk menjadikannya sebagai musuh kita dan telah menghalalkan dagingnya untuk kita, padahal Dia berkuasa untuk mengharamkannya.

Ingkar Kepada Ni’mat Allah

oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rohimulloh

Firman Allah Ta’ala (artinya):

"Mereka mengetahui ni’mat Allah, (tetapi) kemudian mereka mengingkarinya…" (An-Nahl: 83)

Dalam menafsiri ayat di atas, Mujahid berkata bahwa maksudnya adalah kata-kata seseorang: "Ini adalah harta kekayaan yang aku warisi dari nenek moyangku."

‘Aun bin ‘Abdullah mengatakan: "Yakni kata mereka: ‘Kalau bukan karena Fulan, tentu tidak akan menjadi begini’."

Menurut tafsiran Ibnu Qutaibah: "Mereka itu mengatakan: ‘Adalah berkat syafa’at sesembahan-sesembahan kita’."
(more…)

6 July 2006

Beberapa Daftar Buku

Di bawah ini ada beberapa usulan dalam masalah buku-buku penting bagi perpustakaan rumah:

Tafsir:
Tafsir lbnu Katsir, Tafsir lbnu Sa’di, Zubdatut Tafsir karya Al-Asyqar, Ushulut Tafsir karya Ibnu Utsaimin, dan Lamahaat fii Uluumil Qur’an karya Muhammad Ash-Shabbagh.

Hadits:
Shahihul Kalimith Thayyib, Amalul Muslimi fil Yaum wal Lailah, Riyadhush Shalihin dan keterangannya, Nuzhatul Muttaqin, Mukhtashar Shahih Al-Bukhari karya Zubaidi, Mukhtashar Shahih Muslim karya Mundziri dan Al-Albani, Shahihul Jami’ Ash-Shaghier, Dha’iful Jami’ Ash-Shaghier,  Shahihut Targhib wat Tarhib, As-Sunnah wa Makaanatuha fit Tasyrii’, Qawa’id wa Fawa’id Minal Arba’in An-Nawawiyyah karya Nazhim Sulthan.

Aqidah:
Fathul Majid Syarhu KitabAt-Tauhid dengan tahqiq Arna’uth, A’laamus Sunnah Al-Mansyurah karya Al Hakamy,Ma’arijul Qabuul karya Al—Hakamy, Syarhul Aqidah Ath-Thahawiyah dengan tahqiq Al-Albani, Silsilatul Aqidah karya Umar Sulaiman Al-Asyqar (8 ]uz), Asyraatus Saa’ah karya Dr.Yusuf Al-Wabil.

(more…)

Iman, Islam dan Ihsan

Umar radhiyallaahu anhu. berkata: Ketika kami tengah berada di majelis bersama Rasulullah pada suatu hari, tiba-tiba tampak dihadapan kami seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh dan tidak seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Lalu ia duduk di hadapan Rasulullah dan menyandarkan lututnya pada lutut Rasulullah dan meletakkan tangannya diatas paha Rasulullah, selanjutnya ia berkata," Hai Muhammad, beritahukan kepadaku tentang Islam " Rasulullah menjawab,"Islam itu engkau bersaksi bahwa sesungguhnya tiada Tuhan selain Alloh dan sesungguhnya Muhammad itu utusan Alloh, engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Romadhon dan mengerjakan ibadah haji ke Baitullah jika engkau mampu melakukannya." (more…)

Saying Salaam to Someone Unknown on The Telephone

Response:
The ruling regarding that is the (same) ruling of when you meet (someone) and if you know him to be a kaafir then he is not to be greeted with the salaam, however if you do not know, then there is no prohibition in that.

And with Allaah lies (all) the success.

Shaykh Ibn Baaz
Majmoo’ Fataawa wa Maqaalaat Mutanawwi’ah - Volume 6, Page 366

Sumber : http://www.fatwa-online.com/fataawa/miscellaneous/miscellaneous/0060518.htm

3 July 2006

Al-Haya (Malu)

Dari Ibnu Umar, radiyallaahu anhu, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam melewati seorang lelaki dari kaum Anshar. Laki-laki itu sedang menasihati anaknya tentang malu, maka Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Biarkanlah dia, sesungguhnya malu itu bagian dari iman." (Mutafaq ‘alaih)

Dari Imran bin Husain radiyallaahu anhu, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Malu tidak akan mendatangkan sesuatu pun kecuali kebaikan." (Mutafaq ‘alaih)

Dari Abu Hurairah radiyallaahu anhu, Rasulullaah Shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

"Iman mempunyai lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling baik adalah Laa ilaaha ilallaah. Sedangkan cabang yang paling rendah adalah membuang duri dari jalan. Dan malu adalah satu cabang dari keimanan." (Mutafaq ‘alaih)

Berikanlah Muqodimah Terlebih Dahulu

Dari Ummu Salamah, dia berkata.
‘Ummu Sulaim pernah datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata. ‘Wahai Rasulullah sesungguhnya Allah tidak merasa malu dari kebenaran. Lalu apakah seorang wanita itu harus mandi jika dia bermimpi?"

Maka Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab. ‘Jika dia melihat air (mani)’. Lalu Ummu Salamah menutup wajahnya, dan berkata. ‘Wahai Rasulullah, apakah wanita itu juga bisa bermimpi .? ‘Beliau menjawab. ‘Ya, bisa’. Maka sesuatu yang menyerupai dirinya adalah anaknya".

(Hadits shahih, ditakhrij Ahmad 6/306, Al-Bukhari 1/44, Muslim 3/223, At-Tirmidzi, hadits nomor 122, An-Nasa’i 1/114, Ibnu Majah hadits nomor 600, Ad-Darimi 1/195, Al-Baihaqi 1/168-169)

Ummu Sulaim tidak langsung bertanya, akan tetapi ada muqodimah terlebih dahulu.
Inilah etika bertanya, jika sesuatu itu dirasa malu atau bisa mengkagetkan telinga. Setelah menyampaikan muqodimah, Ummu Salamah merasa lega menyampaikan maksudnya.

Yang bisa dipetik dari hadits di atas:
1. Jika tidak ada air/basah, tidak wajib mandi.
2. Wanita juga mengeluarkan mani.
3. Menetapkan bahwa Allah memiliki sifat malu.
4. Janganlah sifat malu itu menjadikan seseorang malu bertanya tentang ilmu.
   Adalah adab & etika bertanya, jika sesuatu yang mau disebutkan malu, maka berikanlah muqodimah.

Report Kajian MUM Bab Mandi Janabah @ 020406

Cermat dalam Perkataan & Teliti dalam Menyampaikan Informasi

Allah subhaanahu wata’ala berfirman :

QS Al-Isra’ 36:
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.

QS Qaf 18:
Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.

Dari Abu Hurairah radiyallahu anhu, Rasulullaah shalallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
"Seseorang layak dikatakan pendusta jika ia mengatakan setiap perkara yang didengarnya." (HR Muslim)

Duduk yang Dimurkai

Dari Asy-Syadid bin Suwaid Radhiyallahu ‘anhu, di berkata,

"Rasulullah Shallahu ‘alaihi wa sallam melewati saya, sedangkan saya baru duduk dengan meletakkan tangan kiri ke belakang dan saya bersandar pada telapak tangan. Kemudian beliau bersabda, ‘Mengapa kamu duduk seperti duduknya orang yang dimurkai (dibenci) oleh Allah !"
(HR. Abu Daud)

disalin dari semenit.tk